film ini saya tonton di tengah excitement film Indonesia saat ini di bioskop. Setelah dua film keluarga yang dirilis pada liburan lalu, Garuda di Dadaku dan King, saat momen peringatan hari kemerdekaan, Merantau, Merah Putih, dan yang terakhir Cin(t)a juga diputar di bioskop. Dan saya memilih untuk menonton Cin(t)a.
Film ini katanya karya salah satu alumni LFM salah satu perguruan tinggi di Bandung. Makanya, pementasan perdananya ramai dipenuhi oleh mahasiswa dari perguruan tinggi tersebut. Film ini pun sudah ramai dibicarakan sejak trailer filmnya dirilis pada awal tahun ini. Memang, adegan pada trailer film ini terlihat sangat menarik.
Lalu, bagaimanakah dengan filmnya sendiri, apakah semenarik trailernya?
Yang berharap film ini bagus boleh kecewa, karena ternyata adegan paling menarik dari film ini merupakan adegan yang ada di trailernya. Dari segi pengambilan gambar, banyak sekali adegan yang menggunakan perubahan fokus yang sangat kentara sekali. Sound mixing nya pun tidak terlalu baik, seringkali score yang diputar terlalu keras, menutupi dialog dari pemerannya. Adegannya banyak sekali yang aneh, terlalu teatrikal untuk sebuah film. Jalan ceritanya pun aneh, dengan ending yang tidak kalah anehnya. Satu-satunya hal yang bisa disalvage dari film ini adalah tema ceritanya yang didukung dengan dialog-dialog kritis ala mahasiswa yang baik.
Despite semua kritik di atas, saya cukup salut dengan film ini, terutama dengan strategi publikasinya. Semoga film ini dapat menimbulkan animo di kalangan sineas-sineas muda untuk dapat membuat karya yang lebih baik lagi.
Yak, sampai pada bagian terakhir dari review ini. Rekomendasi saya untuk film ini adalah:
Tidak disarankan untuk ditonton! Kecuali anda benar-benar penasaran untuk menonton setelah melihat trailernya. Resiko tidak ditanggung.
Rating: 3/10