Monthly Archives: December 2011

Bisnis Telekomunikasi Indonesia

Ketika saya datang ke acara kumpul alumni sma beberapa waktu yang lalu, saya berkenalan dengan salah satu senior. Setelah berkenalan dia menanyakan kesibukan saya saat ini. Kemudian saya menjawab bahwa saya baru lulus dan sedang mencari pekerjaan.

Kemudian obrolan dilanjutkan tentang dunia telekomunikasi saat ini. Sedang sulit katanya. Saya pun mengiyakan. Kemudian kami membahas tentang bisnis telekomunikasi. Obrolan tidak berlangsung lama karena dipotong makan siang.

Memang, industri telekomunikasi saat ini tidak seperti 5-10 tahun yang lalu ketika pasar sedang tumbuh dengan pesat dan margin yang bisa diambil oleh perusahaan telekomunikasi cukup tinggi. Saat ini di negara maju jumlah pengguna jasa telekomunikasi sudah mencapai titik tertinggi dengan tingkat penetrasi melebihi 100%, sedangkan di negara berkembang angka pertumbuhannya penggunanya sudah semakin kecil.

Margin keuntungan yang bisa diambil oleh perusahaan telekomunikasi pun semakin kecil karena adanya persaingan, sehingga harga produk yang dijual ke konsumen semakin turun, sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan tiap tahunnya semakin tinggi (harga perangkat, gaji karyawan, dan lisensi pita yang naik tiap tahunnya).

Traffik voice yang diterima oleh perusahaan telekomunikasi juga semakin menurun setelah muncul banyak alternatif yang lebih murah seperti VoIP dan instant messaging. Perusahaan telekomunikasi seluler mulai mengandalkan layanan data sebagai sumber pendapatan utama, namun mereka pun mulai ditantang oleh perusahaan telekomunikasi kabel dengan adanya teknologi baru seperti 4G LTE dan femtocell. Di indonesia sendiri, perusahaan telekomunikasi seluler masih bisa bermafas lega karena internet melalui jaringan kabel masih belum bisa bersaing dengan mobile internet.

Saat ini, yang bisa dilakukan oleh para perusahaan telekomunikasi adalah mulai ‘merampingkan diri’ dan melakukan diversifikasi dengan mulai menyediakan konten, sehingga pendapatan tidak hanya terbatas dari jasa telekomunikasi. Para stakeholder mungkin bisa melihat bahwa keuntungan perusahaan akan turun sampai suatu titik tertentu, tetapi setidaknya pasar untuk industri jasa telekomunikasi akan selalu ada.


pemilu IA

beberapa minggu terakhir ini para kandidat ketua IA kampus gencar sekali berkampanye, mulai dari memasang baligo, hingga mengadakan event semacam talkshow dan bazaar.semangat sekali. jadi kepikiran apakah benar komentar yang dilontarkan salah satu teman: ketua IA jalannya jadi mentri!

dalam kampanye, strategi yang diusung masing-masing kandidat pun berbeda-beda. ada salah satu kandidat yang diusung oleh tim suksesnya dengan pencitraaan bahwa ida adalah kandidat ‘biasa’. ingin menjaring suara dari para kandidat ‘biasa’ nampaknya. kalo melihat film2 di barat sana, taktik menjaring suara ‘biasa’ nampak menjadi suatu strategi yang brilian, karena memang suara orang ‘biasa’ memang faktanya jauh lebih banyak dibandingkan dengan suara orang yang menonjol. namun nampaknya di kampus kami, strategi ini nggak akan laku, karena orang ‘biasa’ pun rata-rata punya cita-cita dan harapan yang besar, dan nggak mau dianggap biasa saja. hanya sedikit sekali rasanya orang ‘biasa’ yang benar-benar ‘biasa’.

ada kandidat-kandidat yang selain mengusung program yang terlihat begitu baik, juga mengusung anaknya! ya, anaknya! segudang prestasi sang anak ditunjukkan kepada para pemilih. seolah-olah sang kandidat sendiri tidak punya sesuatu yang bisa dijual. emangnya kita mau milih anaknya, hahaha

ada kandidat yang melakukan pendekatan personal, menghubungi calon pemilih satu-satu dengan harapan menambah jumlah suara yang didapat. ide yang cukup baik pada awalnya, namun ketika ‘pendekatan’ itu mulai terasa intens, mulai terlintas rasa sebal, mungkin terasa seperti saat di-PDKT oleh seseorang yang kita cukup suka, tapi tidak ingin kita jadikan pacar.

melihat strategi2 kampanye para calon yang begitu beragam, saya teringat kembali kepada salah satu manga yang pernah saya baca, mengenai kampanye seorang walikota di sebuah kota kecil. apparently, selain seorang kandidat yang baik (memiliki visi dan misi yang baik, karismatis, memiliki integritas, dan embel embel lain), di belakang itu juga diperlukan anggota tim sukses yang karismatis, yang memiliki semangat yang tak kalah besar dibanding kandidat itu sendiri sehingga kualitas-kualitas yang dimiliki kandidat akan dapat direfleksikan dengan baik. hal ini sangat menentukan jumlah suara yang akan didapat kandidat nantinya. benar atau tidak, paling tidak itu satu nilai yang saya dapat dari manga tersebut.

nah, dari kampanye pemilu IA kali ini, agaknya hanya satu kandidat yang memiliki kualitas itu. benar atau tidak pendapat yang saya utarakan barusan, mungkin bisa dilihat dari hasil pemilu kali ini. mari kita nantikan bersama-sama!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.