Movie Review: The Perk of Being A Wallflower

 Image

 

Ah, malam minggu kali ini gw habiskan buat nonton film yang udah lama pengen gw tonton tp apa daya ga sempet-sempet disempetin (sebenernya sekarang pun bukan waktunya buat nonton karena banyak kerjaan masih numpuk, haha)

Yang bikin gw tertarik sama filem ini awalnya tentu saja: Emma Watson (which I think is the same reason 90% guys will answer when asked), cuma ternyata setelah diikutin ceritanya, bagus juga. Settingnya tentang anak remaja yang sangat kuper (beneran ga punya temen) yang ketemu sama temen-temen yang aneh. Sounds cliche right? But it’s not, really. Ceritanya cukup ‘berat’, bikin agak mikir dikit dan harus merhatiin detailnya. Ceritanya jg ga    murni happy dari awal sampe akhir ataupun tragic (awalnya mikir ini filem akhirnya tragic). My impressions is: filemnya cukup berbeda, hehe

I’m not gonna give you a score for this movie, but the lastest IMDB score (as 09/08/13) is 8.1, which is quite good. This is a movie I’ll definitely recommend to high school movie lovers.

Belajar Menulis Lagi

Sudah cukup lama sejak saya terakhir membuat sebuah tulisan, mungkin terakhir ketika menulis thesis dan paper pada waktu masih sekolah. Dan itu rasanya sudah hampir dua tahun yang lalu. Selama ini, di kantor tidak ada pekerjaan yang mengharuskan saya untuk menulis suatu laporan atau proposal yang cukup ‘berisi’. Biasanya saya hanya membuat memo ataupun surat yang notabene isinya ya begitu-begitu saja.

Awalnya saya tidak menganggap ini suatu permasalahan, namun ternyata karena jarang menulis, saya sekarang merasa sulit sekali untuk merangkai kata-kata yang baik dalam bentuk tulisan, dan hal ini agak mempengaruhi juga kemampuan saya untuk berkomunikasi secara verbal. Padahal semua pekerjaan saya saat ini membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik, verbal maupun tertulis. Jadi, sekarang saya memutuskan untuk belajar kembali menulis. Apa topiknya? Kemungkinan besar masih menyangkut uneg-uneg saya pada pekerjaan-pekerjaan saya, tentang keuangan, pemasaran dan bisnis. Tapi tidak ada salahnya mungkin jika saya sedikit me-review ilmu dasar saya di bidang teknik 🙂

Demi kemampuan berbahasa yang lebih baik. Demi masa depan. Hahaha.

Tentang motivasi

Pagi ini saya membaca salah satu tweet dari seorang teman. Isinya mengenai penulis buku Rich Dad, Poor Dad yang menyatakan diri bangkrut di pengadilan niaga Amerika Serikat. Saya teringat betapa terkenalnya sang penulis beberapa tahun yang lalu. Saat itu, tren kewirausahaan di Indonesia baru saja mulai naik dan belum banyak tokoh motivasi seperti saat ini. Sang penulis saat itu termasuk salah satu orang yang sering dijadikan rujukan para penjual multi-level marketing untuk memotivasi calon kliennya.

Tapi kali ini saya tidak ingin membahas mengenai kegagalan Rich Dad, Poor Dad atau tentang multi-level marketingi. Kali ini saya ingin membahas mengenai motivasi itu sendiri. Hingga beberapa hari yang lalu, saya selalu menganggap bahwa para pelaku bisnis motivator itu hanya menjual omong kosong. Saya, seperti kebanyakan orang skeptis lainnya, selalu menganggap bahwa seseorang yang berkeinginan untuk sukses seharusnya bisa memotivasi dirinya sendiri, tidak perlu mengikuti kelas motivasi yang tentunya membutuhkan pengorbanan baik dalam bentuk waktu maupun uang. Hingga akhirnya saya mendengar salah satu talkshow di radio yang membahas tentang berpikir positif dan motivasi.

Seseorang bisa saja memotivasi dirinya sendiri ketika dia sedang merasa semangatnya menurun, namun pasti ada titik dimana dia sendiri merasa ragu akan hal yang dia lakukan. Saat itulah tentu kita butuh motivasi dari orang lain. Dan motivasi yang paling baik tentulah berasal dari orang-orang yang sangat optimis. Selain itu, kita bisa terular dengan optimisme yang dia bawa, sehingga kita menjadi lebih semangat. Terkadang, ilmu dan pengalaman yang diajarkan pun dapat menjadi pelajaran berharga kepada kita. Karena itulah, saya merasa tidak ada salahnya jika kita sesekali mendengarkan, membaca, ataupun menonton cerita motivasi seperti itu. Tapi tentunya jangan sampai menjadikan kita sangat bergantung kepada motivator untuk memotivasi kita. Bagaimanapun juga kita harus dapat memotivasi diri sendiri dalam keseharian, serta memotivasi orang lain, terutama rekan kerja dan bawahan di tempat kita bekerja, karena kemampuan  untuk memotivasi orang lain merupakan salah satu kemampuan penting dalam jalan menuju sukses.

Bisnis Telekomunikasi Indonesia

Ketika saya datang ke acara kumpul alumni sma beberapa waktu yang lalu, saya berkenalan dengan salah satu senior. Setelah berkenalan dia menanyakan kesibukan saya saat ini. Kemudian saya menjawab bahwa saya baru lulus dan sedang mencari pekerjaan.

Kemudian obrolan dilanjutkan tentang dunia telekomunikasi saat ini. Sedang sulit katanya. Saya pun mengiyakan. Kemudian kami membahas tentang bisnis telekomunikasi. Obrolan tidak berlangsung lama karena dipotong makan siang.

Memang, industri telekomunikasi saat ini tidak seperti 5-10 tahun yang lalu ketika pasar sedang tumbuh dengan pesat dan margin yang bisa diambil oleh perusahaan telekomunikasi cukup tinggi. Saat ini di negara maju jumlah pengguna jasa telekomunikasi sudah mencapai titik tertinggi dengan tingkat penetrasi melebihi 100%, sedangkan di negara berkembang angka pertumbuhannya penggunanya sudah semakin kecil.

Margin keuntungan yang bisa diambil oleh perusahaan telekomunikasi pun semakin kecil karena adanya persaingan, sehingga harga produk yang dijual ke konsumen semakin turun, sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan tiap tahunnya semakin tinggi (harga perangkat, gaji karyawan, dan lisensi pita yang naik tiap tahunnya).

Traffik voice yang diterima oleh perusahaan telekomunikasi juga semakin menurun setelah muncul banyak alternatif yang lebih murah seperti VoIP dan instant messaging. Perusahaan telekomunikasi seluler mulai mengandalkan layanan data sebagai sumber pendapatan utama, namun mereka pun mulai ditantang oleh perusahaan telekomunikasi kabel dengan adanya teknologi baru seperti 4G LTE dan femtocell. Di indonesia sendiri, perusahaan telekomunikasi seluler masih bisa bermafas lega karena internet melalui jaringan kabel masih belum bisa bersaing dengan mobile internet.

Saat ini, yang bisa dilakukan oleh para perusahaan telekomunikasi adalah mulai ‘merampingkan diri’ dan melakukan diversifikasi dengan mulai menyediakan konten, sehingga pendapatan tidak hanya terbatas dari jasa telekomunikasi. Para stakeholder mungkin bisa melihat bahwa keuntungan perusahaan akan turun sampai suatu titik tertentu, tetapi setidaknya pasar untuk industri jasa telekomunikasi akan selalu ada.

pemilu IA

beberapa minggu terakhir ini para kandidat ketua IA kampus gencar sekali berkampanye, mulai dari memasang baligo, hingga mengadakan event semacam talkshow dan bazaar.semangat sekali. jadi kepikiran apakah benar komentar yang dilontarkan salah satu teman: ketua IA jalannya jadi mentri!

dalam kampanye, strategi yang diusung masing-masing kandidat pun berbeda-beda. ada salah satu kandidat yang diusung oleh tim suksesnya dengan pencitraaan bahwa ida adalah kandidat ‘biasa’. ingin menjaring suara dari para kandidat ‘biasa’ nampaknya. kalo melihat film2 di barat sana, taktik menjaring suara ‘biasa’ nampak menjadi suatu strategi yang brilian, karena memang suara orang ‘biasa’ memang faktanya jauh lebih banyak dibandingkan dengan suara orang yang menonjol. namun nampaknya di kampus kami, strategi ini nggak akan laku, karena orang ‘biasa’ pun rata-rata punya cita-cita dan harapan yang besar, dan nggak mau dianggap biasa saja. hanya sedikit sekali rasanya orang ‘biasa’ yang benar-benar ‘biasa’.

ada kandidat-kandidat yang selain mengusung program yang terlihat begitu baik, juga mengusung anaknya! ya, anaknya! segudang prestasi sang anak ditunjukkan kepada para pemilih. seolah-olah sang kandidat sendiri tidak punya sesuatu yang bisa dijual. emangnya kita mau milih anaknya, hahaha

ada kandidat yang melakukan pendekatan personal, menghubungi calon pemilih satu-satu dengan harapan menambah jumlah suara yang didapat. ide yang cukup baik pada awalnya, namun ketika ‘pendekatan’ itu mulai terasa intens, mulai terlintas rasa sebal, mungkin terasa seperti saat di-PDKT oleh seseorang yang kita cukup suka, tapi tidak ingin kita jadikan pacar.

melihat strategi2 kampanye para calon yang begitu beragam, saya teringat kembali kepada salah satu manga yang pernah saya baca, mengenai kampanye seorang walikota di sebuah kota kecil. apparently, selain seorang kandidat yang baik (memiliki visi dan misi yang baik, karismatis, memiliki integritas, dan embel embel lain), di belakang itu juga diperlukan anggota tim sukses yang karismatis, yang memiliki semangat yang tak kalah besar dibanding kandidat itu sendiri sehingga kualitas-kualitas yang dimiliki kandidat akan dapat direfleksikan dengan baik. hal ini sangat menentukan jumlah suara yang akan didapat kandidat nantinya. benar atau tidak, paling tidak itu satu nilai yang saya dapat dari manga tersebut.

nah, dari kampanye pemilu IA kali ini, agaknya hanya satu kandidat yang memiliki kualitas itu. benar atau tidak pendapat yang saya utarakan barusan, mungkin bisa dilihat dari hasil pemilu kali ini. mari kita nantikan bersama-sama!

Create a free website or blog at WordPress.com.